Senin, 14 September 2020

Dipertemukan Kembali

Hallo lama tak bersua yaaa ~

Sebelum lanjut coba deh kalian baca di tulisanku yang berjudul “ Tuan Pejalan Pujaan Hati” di tulisan itu aku benar-benar kecewa dengan sesorang yang baru saja hadir sesaat dalam hidupku. Benar memang jika jodoh tak akan ke mana. Setelah hampir 2 tahun tidak kontak dengannya tapi Tuhan selalu punya cara mempertemukan. 

.

Hari itu aku benar-benar sudah tak berharap padanya lagi. Karena setelah menyelesaikan pendidikan S1 aku ingin sekali lanjut S2 sambil bekerja. Dan sedikitpun tak terfikirkan tentang pernikahan. Tiba-tiba Tuhan mendatangkan dia “tuan pejalan pujaan hati“ orang yang dahulu pernah hadir dalam waktu singkat dan pergi begitu saja. Tetiba saja dia datang menanyakan tentang pernikahan. Dan ku jawab dengan entengnya bahwa aku masih belum memikirkan pernikana karena ada fokus lain. Semakin intens chat lewat instagram berlanjut tukar nomer whatsap, di whatsap percakapan semakin merujuk pada pernikahan. Dalam hati Aku sudah pernah dia sakiti, dan aku harus tegas kali ini. Aku menjawab denga tegas “jika ingin serius silahkan datang ke rumah dan ngobrol ke bapak”.

.

Dan benar-benar tak terduga bapak mengizinkan dia datang ke rumah, dan disambut dengan baik. Malam itu dia benar-benar datang sendirian. Mulailah berkenalan dengan bapak mulai dari riwayat pendidikannya, pekerjaan hingga orang tua. Percakapan berlangsung lumayan lama sekitar 3jaman lebih. Dan tak disangka ternyata sambutan baik datang dari keluarganya. Keluarganya ingin disegerakan saja pernikahan ini. Namun keluargaku tak bisa jika harus terburu-buru. Harus ada persiapan yang matang dahulu. Akhirnya setelah lamaran dan menentukan tanggal untuk pernikahan, ada tenggang waktu 3 bulan. Waktu 3 bulan itu benar-benar berjalan cepat sekali. Persiapan catering, dekor, makeup, undangan, snack, pengisi acara, tamu undangan.

.

Ah benar-benar melelahkan. Belum lagi masalah-msalah kecil yg teriba hadir di hari sebelum pernikahan. Oh ya buat kalian yg belum menikah atau yang akan menikah, jika ada masalah alangkah lebih baiknya diselesaikan dengan baik karena kata orang jawa itu cobaan sebelum pernikahan jadi jangan goyah yaa ☺️.

.

Tibalah hari H pernikahan kami, hari itu tanggal 8 September 2018 kami melangsungkan akad nikah dan tanggal 9-10 kami melangsungkan resepsi pernikahan. 

Intinya dari pernikahan akhirnya adalah kehidupan setelah segala upacara pernikahan itu selesai. Setelah acara selesai tiba-tiba datang masalah silih berganti. Tak hanya masalah kecil, kamipun mendapat masalah besar. Apalagi kami adalah 2 orang yang memang dulu pernah kenal tapi hanya sebentar lalu tidak kontak sama sekali dan tetiba menikah. Tentunya kami tidak mengenal kepribadian satu sama lain.

.

Penyesuain diri antara kami terjadi hampir 1 tahun lebih. Dalam kurun waktu 1 tahun entah sudah berapa kali bertengkar karena beda pendapat, tidak cocok dengan kebiasaan satu sama lain, dan lain sebagainya. Hingga akhirnya mulai masuk tahun ke 2 kami mulai bisa memahami satu sama lain, lebih bisa menahan diri. Dan rasanya seperti pengantin baru. Benih-benih kasih sayang mulai tumbuh subur di tahun itu. 

.

Jadi untuk kalian yang menikah dengan orang yang sebelumnya tidak kalian kenal, kalian mungkin saja harus menyesuaikan diri lebih lama dari pada mereka yang sudah saling mengenal sebelumnya. Tapi percayalah rasanya seperti baru kenal kemaren lalu kalian jadi orang yang harus punya visi misi yang diselaraskan. Ahh selamat berjuang yaa dalam kehidupan pernikahan semoga kalian bahagia selalu ðŸ’•

Untuk yang belum dipertemukan dengan jodohnya jangan bosan-bosan meminta pada Tuhan diberikan jodoh terbaik ðŸ˜˜


Sabtu, 02 Desember 2017

KESIRNAAN




Hingga kesirnaan itu datang
Setelah banyak hari terlewati, aku telah sadar akan datangnya malam ini. Di mana malam menyakitkan itu datang. Di mana malam yang menakutkan bagiku. Dan yang lebih menyakitkannya lagi hari-hari setelah malam itu. Perasaan mencintai, menyayangi, rasa rindu serta harapan yang dipaksa untuk sirna.
Kabar darimu tak lagi terdengar. Notifikasi dari obrolan yang biasa kita lakukan lewat pesan singkat itu jarang sekali terdengar. Semakin hari semakin menyakitkan. Dan seketika itu pula segala hal tentang dirimu perlahan dipaksa menghilang. Segalanya berubah menyeramkan setelah malam itu.
Tak ada lagi tempat berkeluh kesah atau sekedar tempat bercerita. Tak ada teman baik yang saling memahami perasaan satu sama lain. Tak ada lagi orang penyabar yang mendengarkan kicauanku. Tak ada lagi orang yang selalu tersenyum untuk sekedar menghilangkan lara bersama. Yang tersisa hanya kenang pertemuan yang menuyakitkan.
Namun, doa dan harapan tidak sirna begitu saja. Namamu selalu kusebut disepertiga malam yang syahdu. Kecewa, rindu, rasa ingin memiliki dan entah semua berkumpul menjadi tangis setiap aku menyebut untuk memintamu pada Rabbku.
Seharusnya memang sedari awal aku tau bahwa setiap perasaan tidak harus berbalas saling memiliki. Selalu saja seperti ini. Seharusnya aku belajar, untuk tidak jatuh karena hal sama. Namun apalah dayaku, aku hanya manusia biasanya yang tak mampu membohongi segala rasa. Terlebih ketika segalanya menjadi terbiasa nyaman. Dan tiba-tiba segalanya harus dibiasakan tanpa atau bahkan tidak sama sekali denganmu. Menyakitkan bukan.
Dan hingga saat ini namamu masih mengisi barisan doa-doaku dan harapanku. 
Tulungagung, 3 Desember 2017

RINDU DAN HARAPAN



Rindu dan harapan
Setelah hari itu, segalanya berubah perlahan. Hadirmu selalu kunantikan, jika tak memungkinkan temu mungkin hanya sekedar sapaan pagi lewat pesan singkat. Atau mungkin sekedar basa-basi, menyebalkan. Semakin ke sini semakin harapanku membumbung tinggi. Yang ku tahu aku harus siap menghadapi rasa kecewa, nanti. Sebenarnya tak hanya harapanku saja yang kupupuk. Namun juga memintamu dalam setiap lantunan doaku tak pernah henti kulakukan.
Ada yang tak bisa kupungkiri. Rasa takut kehilangan itu mulai hadir tanpa permisi. Takut selalu saja kutepis hadirnya. Lalu kupupuk kembali harapan itu dengan kerinduan yang tiada tau kapan berakhirnya. Setiap harinya rindu itu hadir lagi dan lagi. Kabar darimu semakin membuat rindu itu dipupuk hingga subur
Hingga pertemuan itu datang. Seketika pertemuan itu menyeka rindu yang menggunung dalam dada. Sapaan lembutmu, senyum indahmu, halus tuturmu dan pembicaraan ringan yang selalu saja mengiringi. semakin hari hadirmu bak malaikat tak bersayap *alay, karena engkau yang berbaik hati mengenalku, yang berbaik hati mendengarkan keluh kesahku, yang dengan hati-hati mengobati lukaku.
Ahh trimakasih hadirmu. Membuatku percaya bahwa masih ada orang baik di sini. Tidak hanya baik namun menyenangkan. Tak hanya menyenangkan namun juga menenangkan. Trimakasih sudah memberi banyak pelajaran. Trimakasih telah memberi obat terbaik. Harpaku semoga Tuhan membalas segala hal baik yang kau lakukan padaku. 
*Tulungagung, 3 Desember 2017 (saat segalanya telah sirna) 

Pertemuan itu




Pertemuan itu.
Tiada pernah terfikirkan akan seperti ini.
Ku kira hanya sebuah perkenalan iseng lewat medsos, bahkan aku berfikir kamu adalah salah satu orang atau teman dekatnya yang sengaja dihadirkan untukku, untuk mengintaiku. Ah dasar diriku terlalu banyak menonton ftv. Dugaanku tak ada yang benar ternyata. Kamu memang orang baik, yaa begitu penilainku tentangmu.
Awal pertemuan dengan suasana desa yang dingin serta suara riuh para pendaki yang sedang melakukan registrasi pendakian sore itu. Kamu mengajakku berkeliling desa. Dengan berjalan kaki sambil menikmati dingin desa kau buka obrolan ringan diantara kita. Yaa tentang tempat-tempat indah itu. Tentang beberapa orang yang hadir atau bahkan para pendaki yang sedang antri di loket masuk.
Lalu maghrib tiba, kaupun memutuskan untuk lekas turun agar tak terganggu dengan kabut tebal yang biasa turun di malam hari. Sejujurnya aku bukanlah orang yang pemberani melakukan perjalannan malam hari a[alagi di daerah pegunungan dengan penerangan yang sangat kurang, untungnya kamu tak begitu saja diam ketika di jalan. Entah ada saja yang bisa jadi bahan obrolan.
Selah pertemuan pertama itu, kufikir tak akan ada lagi pertemuan-pertemuan selanjutnya. Namun ternyata aku salah. Di hari-hari yang lain ternyata kita masih saja bertemu dengan segala alasan untuk pertemuan itu. Entah sekedar meminjam buku atau sekedar ingin menikmati kopi dengan cerita-cerita menyakitkan tentang masalalu. Atau bahkan hanya alasan ingin bertemu dan mengobrol.
Entah sejak kapan perasaan itu hadir, aku tak ingat kapan tepatnya. Tapi perasaan itu hadir saat aku mulai nyaman bercerita, mulai nyaman berbicara tentang masa depan, mengeluh tentang hal-hal yang tak kunjung terselesaikan. Ahh entahlah, tapi aku selalu ingat kata-katamu “ga oleh baper lo yo mari tak ajak rene” yaa aku selalu teringat itu dan selalu berusah sekeras mungkin untuk menyembunyikan perasaan itu. Yaa dan aku selalu berhasil.
Pernah beberapa kali mencoba membuka obrolan dengan pertanyaan tentang kita, ah tapi selalu saja kamu mengalihkannya lagi dan lagi. Hingga akhirnya ku kubur dalam-dalam perasaan itu. Yaa pandainya aku berhasil lagi. Hingga malam itu, aku tidak pernah menyangka, ternyata kamu memiliki perasaan yang sama. Ah tapi aku terlalu tidak yakin dengan perasaanku sendiri, aku takut dengan diriku sendiri, aku takut jika ada yang tersakiti dan ada yang menyakiti. Yaa mungkin sebaiknya aku tak mengatakan apa-apa kepadamu terlebih tentang perasaanku. Aku terlanjur nyaman menjadi seperti anak kecil dihadapanmu, menjadi seperti adik yang selalu ingin bercerita kepada kakaknya. Ahh tuan mengapa cinta selalu rumit seperti ini.
Sepertinya mungkin lebih baik begini. Tak perlu gegebah mengambil keputusan. Mari saling mengikat denga doa bukan mengikat dengan sebuah hubungan yang tak diridhai agama. Sembari kita jalan masing-masing menggapai impian masa depan yang masih jauh di sana. Jika memang kita berjodoh, sejauh apapun nanti pasti akan dipertemukan kembali. Bahagia selalu untukmu ~
*Tulungagung, 3 Desember 2017 (saat segalanya telah sirna)

Dipertemukan Kembali

Hallo lama tak bersua yaaa ~ Sebelum lanjut coba deh kalian baca di tulisanku yang berjudul “ Tuan Pejalan Pujaan Hati” di tulisan itu aku b...