Rindu dan harapan
Setelah hari itu, segalanya berubah perlahan. Hadirmu selalu
kunantikan, jika tak memungkinkan temu mungkin hanya sekedar sapaan pagi lewat
pesan singkat. Atau mungkin sekedar basa-basi, menyebalkan. Semakin ke sini
semakin harapanku membumbung tinggi. Yang ku tahu aku harus siap menghadapi
rasa kecewa, nanti. Sebenarnya tak hanya harapanku saja yang kupupuk. Namun
juga memintamu dalam setiap lantunan doaku tak pernah henti kulakukan.
Ada yang tak bisa kupungkiri. Rasa takut kehilangan itu mulai hadir
tanpa permisi. Takut selalu saja kutepis hadirnya. Lalu kupupuk kembali harapan
itu dengan kerinduan yang tiada tau kapan berakhirnya. Setiap harinya rindu itu
hadir lagi dan lagi. Kabar darimu semakin membuat rindu itu dipupuk hingga
subur
Hingga pertemuan itu datang. Seketika pertemuan itu menyeka rindu
yang menggunung dalam dada. Sapaan lembutmu, senyum indahmu, halus tuturmu dan pembicaraan
ringan yang selalu saja mengiringi. semakin hari hadirmu bak malaikat tak
bersayap *alay, karena engkau yang berbaik hati mengenalku, yang berbaik hati
mendengarkan keluh kesahku, yang dengan hati-hati mengobati lukaku.
Ahh trimakasih hadirmu. Membuatku percaya bahwa masih ada orang
baik di sini. Tidak hanya baik namun menyenangkan. Tak hanya menyenangkan namun
juga menenangkan. Trimakasih sudah memberi banyak pelajaran. Trimakasih telah
memberi obat terbaik. Harpaku semoga Tuhan membalas segala hal baik yang kau
lakukan padaku.
*Tulungagung, 3 Desember 2017 (saat segalanya telah sirna)
*Tulungagung, 3 Desember 2017 (saat segalanya telah sirna)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar