Hingga kesirnaan itu datang
Setelah banyak hari terlewati, aku telah sadar akan datangnya malam
ini. Di mana malam menyakitkan itu datang. Di mana malam yang menakutkan
bagiku. Dan yang lebih menyakitkannya lagi hari-hari setelah malam itu. Perasaan
mencintai, menyayangi, rasa rindu serta harapan yang dipaksa untuk sirna.
Kabar darimu tak lagi terdengar. Notifikasi dari obrolan yang biasa
kita lakukan lewat pesan singkat itu jarang sekali terdengar. Semakin hari
semakin menyakitkan. Dan seketika itu pula segala hal tentang dirimu perlahan
dipaksa menghilang. Segalanya berubah menyeramkan setelah malam itu.
Tak ada lagi tempat berkeluh kesah atau sekedar tempat bercerita. Tak
ada teman baik yang saling memahami perasaan satu sama lain. Tak ada lagi orang
penyabar yang mendengarkan kicauanku. Tak ada lagi orang yang selalu tersenyum
untuk sekedar menghilangkan lara bersama. Yang tersisa hanya kenang pertemuan
yang menuyakitkan.
Namun, doa dan harapan tidak sirna begitu saja. Namamu selalu
kusebut disepertiga malam yang syahdu. Kecewa, rindu, rasa ingin memiliki dan
entah semua berkumpul menjadi tangis setiap aku menyebut untuk memintamu pada
Rabbku.
Seharusnya memang sedari awal aku tau bahwa setiap perasaan tidak
harus berbalas saling memiliki. Selalu saja seperti ini. Seharusnya aku
belajar, untuk tidak jatuh karena hal sama. Namun apalah dayaku, aku hanya
manusia biasanya yang tak mampu membohongi segala rasa. Terlebih ketika
segalanya menjadi terbiasa nyaman. Dan tiba-tiba segalanya harus dibiasakan
tanpa atau bahkan tidak sama sekali denganmu. Menyakitkan bukan.
Dan hingga saat ini namamu masih mengisi barisan doa-doaku dan
harapanku.
Tulungagung, 3 Desember 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar