Pertemuan itu.
Tiada pernah terfikirkan akan seperti ini.
Ku kira hanya sebuah perkenalan iseng lewat medsos, bahkan aku
berfikir kamu adalah salah satu orang atau teman dekatnya yang sengaja
dihadirkan untukku, untuk mengintaiku. Ah dasar diriku terlalu banyak menonton
ftv. Dugaanku tak ada yang benar ternyata. Kamu memang orang baik, yaa begitu
penilainku tentangmu.
Awal pertemuan dengan suasana desa yang dingin serta suara riuh
para pendaki yang sedang melakukan registrasi pendakian sore itu. Kamu mengajakku
berkeliling desa. Dengan berjalan kaki sambil menikmati dingin desa kau buka
obrolan ringan diantara kita. Yaa tentang tempat-tempat indah itu. Tentang
beberapa orang yang hadir atau bahkan para pendaki yang sedang antri di loket
masuk.
Lalu maghrib tiba, kaupun memutuskan untuk lekas turun agar tak
terganggu dengan kabut tebal yang biasa turun di malam hari. Sejujurnya aku
bukanlah orang yang pemberani melakukan perjalannan malam hari a[alagi di
daerah pegunungan dengan penerangan yang sangat kurang, untungnya kamu tak
begitu saja diam ketika di jalan. Entah ada saja yang bisa jadi bahan obrolan.
Selah pertemuan pertama itu, kufikir tak akan ada lagi
pertemuan-pertemuan selanjutnya. Namun ternyata aku salah. Di hari-hari yang
lain ternyata kita masih saja bertemu dengan segala alasan untuk pertemuan itu.
Entah sekedar meminjam buku atau sekedar ingin menikmati kopi dengan
cerita-cerita menyakitkan tentang masalalu. Atau bahkan hanya alasan ingin
bertemu dan mengobrol.
Entah sejak kapan perasaan itu hadir, aku tak ingat kapan tepatnya.
Tapi perasaan itu hadir saat aku mulai nyaman bercerita, mulai nyaman berbicara
tentang masa depan, mengeluh tentang hal-hal yang tak kunjung terselesaikan.
Ahh entahlah, tapi aku selalu ingat kata-katamu “ga oleh baper lo yo mari tak
ajak rene” yaa aku selalu teringat itu dan selalu berusah sekeras mungkin untuk
menyembunyikan perasaan itu. Yaa dan aku selalu berhasil.
Pernah beberapa kali mencoba membuka obrolan dengan pertanyaan
tentang kita, ah tapi selalu saja kamu mengalihkannya lagi dan lagi. Hingga
akhirnya ku kubur dalam-dalam perasaan itu. Yaa pandainya aku berhasil lagi.
Hingga malam itu, aku tidak pernah menyangka, ternyata kamu memiliki perasaan
yang sama. Ah tapi aku terlalu tidak yakin dengan perasaanku sendiri, aku takut
dengan diriku sendiri, aku takut jika ada yang tersakiti dan ada yang
menyakiti. Yaa mungkin sebaiknya aku tak mengatakan apa-apa kepadamu terlebih
tentang perasaanku. Aku terlanjur nyaman menjadi seperti anak kecil
dihadapanmu, menjadi seperti adik yang selalu ingin bercerita kepada kakaknya.
Ahh tuan mengapa cinta selalu rumit seperti ini.
Sepertinya mungkin lebih baik begini. Tak perlu gegebah mengambil
keputusan. Mari saling mengikat denga doa bukan mengikat dengan sebuah hubungan
yang tak diridhai agama. Sembari kita jalan masing-masing menggapai impian masa
depan yang masih jauh di sana. Jika memang kita berjodoh, sejauh apapun nanti
pasti akan dipertemukan kembali. Bahagia selalu untukmu ~
*Tulungagung, 3 Desember 2017 (saat segalanya telah sirna)
*Tulungagung, 3 Desember 2017 (saat segalanya telah sirna)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar