Sabtu, 02 Desember 2017

Pertemuan itu




Pertemuan itu.
Tiada pernah terfikirkan akan seperti ini.
Ku kira hanya sebuah perkenalan iseng lewat medsos, bahkan aku berfikir kamu adalah salah satu orang atau teman dekatnya yang sengaja dihadirkan untukku, untuk mengintaiku. Ah dasar diriku terlalu banyak menonton ftv. Dugaanku tak ada yang benar ternyata. Kamu memang orang baik, yaa begitu penilainku tentangmu.
Awal pertemuan dengan suasana desa yang dingin serta suara riuh para pendaki yang sedang melakukan registrasi pendakian sore itu. Kamu mengajakku berkeliling desa. Dengan berjalan kaki sambil menikmati dingin desa kau buka obrolan ringan diantara kita. Yaa tentang tempat-tempat indah itu. Tentang beberapa orang yang hadir atau bahkan para pendaki yang sedang antri di loket masuk.
Lalu maghrib tiba, kaupun memutuskan untuk lekas turun agar tak terganggu dengan kabut tebal yang biasa turun di malam hari. Sejujurnya aku bukanlah orang yang pemberani melakukan perjalannan malam hari a[alagi di daerah pegunungan dengan penerangan yang sangat kurang, untungnya kamu tak begitu saja diam ketika di jalan. Entah ada saja yang bisa jadi bahan obrolan.
Selah pertemuan pertama itu, kufikir tak akan ada lagi pertemuan-pertemuan selanjutnya. Namun ternyata aku salah. Di hari-hari yang lain ternyata kita masih saja bertemu dengan segala alasan untuk pertemuan itu. Entah sekedar meminjam buku atau sekedar ingin menikmati kopi dengan cerita-cerita menyakitkan tentang masalalu. Atau bahkan hanya alasan ingin bertemu dan mengobrol.
Entah sejak kapan perasaan itu hadir, aku tak ingat kapan tepatnya. Tapi perasaan itu hadir saat aku mulai nyaman bercerita, mulai nyaman berbicara tentang masa depan, mengeluh tentang hal-hal yang tak kunjung terselesaikan. Ahh entahlah, tapi aku selalu ingat kata-katamu “ga oleh baper lo yo mari tak ajak rene” yaa aku selalu teringat itu dan selalu berusah sekeras mungkin untuk menyembunyikan perasaan itu. Yaa dan aku selalu berhasil.
Pernah beberapa kali mencoba membuka obrolan dengan pertanyaan tentang kita, ah tapi selalu saja kamu mengalihkannya lagi dan lagi. Hingga akhirnya ku kubur dalam-dalam perasaan itu. Yaa pandainya aku berhasil lagi. Hingga malam itu, aku tidak pernah menyangka, ternyata kamu memiliki perasaan yang sama. Ah tapi aku terlalu tidak yakin dengan perasaanku sendiri, aku takut dengan diriku sendiri, aku takut jika ada yang tersakiti dan ada yang menyakiti. Yaa mungkin sebaiknya aku tak mengatakan apa-apa kepadamu terlebih tentang perasaanku. Aku terlanjur nyaman menjadi seperti anak kecil dihadapanmu, menjadi seperti adik yang selalu ingin bercerita kepada kakaknya. Ahh tuan mengapa cinta selalu rumit seperti ini.
Sepertinya mungkin lebih baik begini. Tak perlu gegebah mengambil keputusan. Mari saling mengikat denga doa bukan mengikat dengan sebuah hubungan yang tak diridhai agama. Sembari kita jalan masing-masing menggapai impian masa depan yang masih jauh di sana. Jika memang kita berjodoh, sejauh apapun nanti pasti akan dipertemukan kembali. Bahagia selalu untukmu ~
*Tulungagung, 3 Desember 2017 (saat segalanya telah sirna)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dipertemukan Kembali

Hallo lama tak bersua yaaa ~ Sebelum lanjut coba deh kalian baca di tulisanku yang berjudul “ Tuan Pejalan Pujaan Hati” di tulisan itu aku b...