Bismillah . . .
Masih berusaha memahami jarak
Apa itu sebenarnya jarak? Sesuatu yang memisahkan ku dengan mu. Ya,
itu setahuku. Memang saat ini aku belum sepenuhnya mengerti. Apa sebenarnya
jarak? Ya memang awalnya aku mampu memahami jarak. Tetapi seiring berjalannya
waktu sepertinya aku mulai membenci sebuah jarak. Jarak yang menimbulkan banyak
permasalahan-[ermasalahan yang tak kunjung selesai karenanya.
Jarak, sesuatu yang menimbulkan rindu berkepanjangan, dan aku hanya
mampu memendam, lalu menjadi sebuah tangisan, dan akhirnya menjadi sebuah
amarah tak terkendalikan. Jarak, aku masih selalu ingin mampu memahami mu lagi
dan lagi. Bagaimana cara ku berdamai dengan mu? Sedangkan rindu yang datang tak
mampu dibendung.
Sabar, kata-kata itu yang sering terucap dari banyak orang. Tapi aku
aku tak mampu menjadi sesosok wanita penyabar yang mampu menahan rindunya
kepada kekasih hatinya yang jauh di sana. Dia (mas kopi) selalu berkata “sabar”.
Masih kurangkah sabarku mas? Bukankah engkau di sana juga merindu? Mendambakan sebuah
pertemuan? Ya meskipun hanya dengan obrolan-obrolan ringan bersama secangkir
kopi seperti saat pertamakali kita bertemu dulu.
Ah entahlah, aku hanya seorang wanita yang tak mampu menahan rindu
dan selalu menyalahkan sebuah “jarak”. Tuhan, ajarkan aku bagaimana mengerti
dan memahami “jarak”, bagaimana cara berdamai dengannya. Tuhan,aku selalu
percaya bahwa Engkau selalu punya rencana indah untuk ku dan untuk mu di balik
sebuah jarak.
Malang,20 April 2016 05.38
