Nikmatnya Rindu dan Pertemuan Selanjutnya
Sore itu ditemani suara hiruk pikuk Batu, suatu perasaan yang sudah
lama memang, dan aku berusaha untuk menepis rasa itu, karena dari beberapa
pengalaman mengajarkan segala bentuk perhatian itu bukan berarti cinta, tetapi
hanya sebatas perhatian seorang teman tak lebih. Ya layaknya teman aku berusaha
setenang mungkin mendengar pernyataanya, tak disangka dia mengungkapkan sesuatu
yang tak pernah kukira, ya perasaan ini bersambut tapi aku tak ingin buru-buru
membalas pernyataannya karena segala sesuatunya perlu pertimbangan.
Setelah beberapa hari, tepatnya di Malam Maulid Nabi Muhammad SAW.
entah apa yang kami bahas dalam percakapan kecil kami di hp, tiba-tiba
terceletuk pertanyaan darinya, ya Allah apa ini kenapa hati ini begitu bahagia
rasanya ingin melompat-lompat. Baiklah aku mulai berusaha menjawab dengan
sejujurnya padanya. Ya semenjak malam itu kami menjadi sepasang manusia yang
berbahagia. Setelah malam itu hari demi hari kami lewati dengan hati dengan
penuh gejolak cinta. Entahlah tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Dia sebut saja mas kopi karena dia adalah penyuka kopi. Semenjak menjalin
hubungan denganya aku belajar bahwa cinta itu tumbuh pelan-pelan, aku belajar
bahwa sendirian menyenangkan, namun berduapun bisa demikian, aku belajar bicara
panjang lebar tanpa harus merasa bosan, aku belajar mulai memperhatikan masa
depan. Semua pelajaran berharga kudapat darinya.
Tetapi ternyata tak semudah seperti yang dibayangkan, entah rasa
apa ini ingin bertemu dan ingin bertemu, banyak orang menyebutnya rindu. Semakin
hari hati ini sesak dipenuhi rasa rindu padamu mas kopi. Semakin hari rasa itu
semakin menjadi-jadi. Karena jarak yang memisahkan kami yang membuat kami tak
saling bertemu walau hanya bertegur sapa, ya semenjak itu aku mulai menyalahkan
jarak, karenanya terkadang kesabaran ini mulai pudar dan menjadi amarah yang
terpendam dan air matapun tak henti-hentinya mengalir denag sendirinya, ya
Allah Engkaulah segala pemilik rasa ini mengapa begini pedihnya rindu. Aku tak
bisa dan tak mungkin menyalahkan rasa itu.
Dari situ aku belajar bahwa sebenarnya jarak itu baik, ia memberi
waktu untuk pertemuan selanjutnya, jeda untuk kita berdoa. Karena setiap rindu
yang kurasakan tak pernah bisa kulukiskan dengan kata-kata. Di situ aku juga
belajar bahwa Allah menciptakan jarak memang agar kita bisa menikmati rasanya
rindu dan bersabar atas pertemuan kita. Bersabarlah wahai hati, bersinarlah
terus jangan redup termakan rindu. Aku hanya mampu berharap kerinduan ini
segera berakhir ketika bertemu denganmu.