Sebuah
Usaha Melupakan
Dan sebuah usaha melupakan itu tiada henti kulakukan. Seperti,
berjalan menyusuri rerimbunan, pantai, yang sepi. Lalu sesekali menari bersama
angin saat angin datang berhembus. Sesekali pula duduk terdiam di bawah
pepohonon sambil memandang hampa lalu menangis senggukan.
Tak hanya itu, rutinitas berlari yang pura-puranya untuk mengurangi
timbangan berat badan. Yaa sebenarnya itu hanya alasan klasik saja. Bagiku “berlari
adalah pelarian terbaik saat hati sedang tak baik” yaa begitu kurang lebihnya
berlari saat ini. Yaa setidaknya agar hati ini mampu segera berdamai dengan
masa lalu kelam itu
Lalu membaca novel-novel roman yang bertema patah hati. Oh Tuhan
ternyata itu makin membuatku selalu mengingatnya. Lalu pernah suatu hari kucoba
membaca novel bertema jatuh cinta. Nah, ini novel yang tepat. Karena mungkin
saja hati ini kembali berharap pada anak manusia yang baik hati yang
benar-benar tak akan melukai.
Tapi semua usaha itu saat ini belum cukup banyak membuahkan hasil. Butuh
waktu yang panjang sepertinya untuk benar-benar sembuh dari luka masa lalu itu.
Belum lagi jika dia tengah menggoda sekedar bertanya kabar. Tuhan rasanya
usahaku selama ini seperti debu yang terbawa angin begitu saja. Yaa mungkin
karena rasa itu belum hilang sepenuhnya.
Yaa begitulah diriku jika sudah mencinta. Apalagi mencintaimu ini
sepertinya terlalu dalam hingga aku jatuh ke dalam jurang cinta itu sendiri. Harapku
semoga ada anak manusia yang berbaik hati membantuku keluar dari jurang dalam
ini.
Yaa harapku tak pernah lelah kulantunkan padaNYA. Pada setiap sujud
dan bait-bait do’a. Tiada berhenti memohon. Yaa karena penawar dan penolong
terbaik akan datang dari-NYA. Aku benar-benar percaya itu.
Malang,
19 Juli 2017 (01.33 WIB)
*aku
: perempuan setenggah waras karena cinta yang gemar menari bersama angin yang
dipercaya lekas membawa dia entah ke mana

Tidak ada komentar:
Posting Komentar