Kamis, 07 Januari 2016

Nikmatnya Rindu dan Pertemuan Selanjutnya





Nikmatnya Rindu dan Pertemuan Selanjutnya


Sore itu ditemani suara hiruk pikuk Batu, suatu perasaan yang sudah lama memang, dan aku berusaha untuk menepis rasa itu, karena dari beberapa pengalaman mengajarkan segala bentuk perhatian itu bukan berarti cinta, tetapi hanya sebatas perhatian seorang teman tak lebih. Ya layaknya teman aku berusaha setenang mungkin mendengar pernyataanya, tak disangka dia mengungkapkan sesuatu yang tak pernah kukira, ya perasaan ini bersambut tapi aku tak ingin buru-buru membalas pernyataannya karena segala sesuatunya perlu pertimbangan.
Setelah beberapa hari, tepatnya di Malam Maulid Nabi Muhammad SAW. entah apa yang kami bahas dalam percakapan kecil kami di hp, tiba-tiba terceletuk pertanyaan darinya, ya Allah apa ini kenapa hati ini begitu bahagia rasanya ingin melompat-lompat. Baiklah aku mulai berusaha menjawab dengan sejujurnya padanya. Ya semenjak malam itu kami menjadi sepasang manusia yang berbahagia. Setelah malam itu hari demi hari kami lewati dengan hati dengan penuh gejolak cinta. Entahlah tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Dia sebut saja mas kopi karena dia adalah penyuka kopi. Semenjak menjalin hubungan denganya aku belajar bahwa cinta itu tumbuh pelan-pelan, aku belajar bahwa sendirian menyenangkan, namun berduapun bisa demikian, aku belajar bicara panjang lebar tanpa harus merasa bosan, aku belajar mulai memperhatikan masa depan. Semua pelajaran berharga kudapat darinya.
Tetapi ternyata tak semudah seperti yang dibayangkan, entah rasa apa ini ingin bertemu dan ingin bertemu, banyak orang menyebutnya rindu. Semakin hari hati ini sesak dipenuhi rasa rindu padamu mas kopi. Semakin hari rasa itu semakin menjadi-jadi. Karena jarak yang memisahkan kami yang membuat kami tak saling bertemu walau hanya bertegur sapa, ya semenjak itu aku mulai menyalahkan jarak, karenanya terkadang kesabaran ini mulai pudar dan menjadi amarah yang terpendam dan air matapun tak henti-hentinya mengalir denag sendirinya, ya Allah Engkaulah segala pemilik rasa ini mengapa begini pedihnya rindu. Aku tak bisa dan tak mungkin menyalahkan rasa itu.
Dari situ aku belajar bahwa sebenarnya jarak itu baik, ia memberi waktu untuk pertemuan selanjutnya, jeda untuk kita berdoa. Karena setiap rindu yang kurasakan tak pernah bisa kulukiskan dengan kata-kata. Di situ aku juga belajar bahwa Allah menciptakan jarak memang agar kita bisa menikmati rasanya rindu dan bersabar atas pertemuan kita. Bersabarlah wahai hati, bersinarlah terus jangan redup termakan rindu. Aku hanya mampu berharap kerinduan ini segera berakhir ketika bertemu denganmu.


2 komentar:

Dipertemukan Kembali

Hallo lama tak bersua yaaa ~ Sebelum lanjut coba deh kalian baca di tulisanku yang berjudul “ Tuan Pejalan Pujaan Hati” di tulisan itu aku b...