TUAN
PEJALAN PUJAAN HATI
Benih-benih
kasih sayang yang kau semai sudah mulai meninggi. Tetapi, tiba-tiba kau berlari
dan tak sadar telah menginjaknya. Tak sadar? Sepertinya engkau sedang dalam
keadaan sadar. Mati sudah Tuan. Asal kau tau Tuan. Tak perlu kau mengumbar janji-janji
manismu itu Tuan, jika akhirnya kau matikan begitu saja.Tetapi tetaplah tenang Tuan,
namamu akan abadi dalam tulisanku. Diantara perih dan air mata sebab kau
matikan rasa begitu saja.
Ketika
awal ku bertemu denganmu. Teduh senyum dan pandanganmu menjadi candu setiap
kali temu. Dan kau tau untuk pertamakalinya aku begitu percaya dengan segala
celotehmu. Senyummu terus menguar malam itu, diantara angin dan kopi panasku. Kupercayakan
segalanya kepadamu tanpa syarat apapun,.
Tetapi
mengapa Tuan begitu mudahnya kau mematikan segala impian indah itu, impian yang
kau janjikan itu. Apakah kau lupa? Atau berpura-pura lupa. Kau begitu saja tak
berkabar, tak memberi penjelasan, adakah perempuan yang sesabar diriku, adakah
perempuan yang sepenurut diriku? Mungkin kau telah menemukannya. Tak apa Tuan. Trimakasih
untuk perih yang bertubi-tubi ini, diantara perih itu aku dapat belajar banyak.
Bahwa kau itu pembohong ulung Tuan, bahwa kau adalah penyair janji manis yang
pandai Tuan.
Dan betapa
bodohnya diriku dengan segala keluguanku yang begitu saja mempercayakan semua
padamu. Ah sudahlah terlalu sakit untuk mengenangnya. Dan semoga sakit ini akan
berbalas sakit yang lebih sakit untukmu Tuan Pejalan. Karena Tuhan terlalu
faham untuk hal-hal kecil ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar